Sabtu, 10 April 2010

Membangun Jalur Khusus Sepeda

Saya menjadi teringat masa kecil saya di kota Malang. Setiap pagi, ketika hendak berangkat ke sekolah, jalanan penuh sesak oleh pengendara sepeda. Mereka adalah para pekerja yang berangkat dari daerah pinggiran kota Malang, hendak bekerja di kota Malang. Beragam profesi mereka.

Sepeda yang mereka gunakan umumnya berjenis sepeda jengki atau sepeda "kebo" (sepeda yang sering digunakan oleh pejabat-pejabat Belanda zaman dulu).
Udara cukup bersih, kabut putih bertebaran terkoyak oleh iring-iringan sepeda mereka.

Ya, itu sepenggal kisah lama. Pikiranku kembali terusik mengingat memori ini.
Saya tinggal di pinggiran Jakarta, bekerja di kota Jakarta. Jarak dari rumah ke kantor sekitar 28 Kilometer.
Setiap hari saya tempuh dengan alat transportasi motor, atau naik kereta api.
Jika naik motor, waktu yang saya butuhkan sekitar 1,5 jam. Jika naik kereta api, waktu yang saya butuhkan sekitar 1/2 jam, yang lama mungkin menunggu jadwal kereta datang, sekitar 1/2 jam. Total waktu ya 1 jam lah...

Setiap saya naik kereta, kereta selalu penuh sesak oleh penumpang. Ribuan orang dari berbagai profesi berangkat menuju kota Jakarta untuk bekerja. Dan tidak sedikit dari penumpang yang harus menantang maut, duduk di atas gerbong, karena gerbong sudah penuh.
Ada juga teman-teman komunitas Bike to Work yang naik kereta, walaupun tidak banyak jumlahnya. Mereka membawa sepeda mereka ke tempat kerja mereka.
Terlintas di pikiran saya, seandainya disediakan jalur khusus untuk sepeda disamping rel kereta ?
Mungkin sebagian dari orang-orang yang menjadi penumpang kereta, akan beralih ke transportasi bersepeda ini. Kenapa saya memilih jalur sepeda disamping rel kereta?
1. Jalur terpendek yang bisa ditempuh. Jika kita merasa terlalu capek, kita bisa memarkir sepeda kita di setiap stasiun, dan melanjutkan dengan transportasi lain.
2. Aman. Biker terhindar dari singgungan kendaraan-kendaraan besar dan motor.
3. Sehat. Udara di samping rel kereta masih relatif bersih, karena jauh dari asap kendaraan-kendaraan bermotor. Sehingga membuat badan menjadi sehat dan bugar.
4. Murah. Karena bersepeda tidak memerlukan bahan bakar yang semakin mahal harganya.


Ya, ini sekedar curahan isi otak saya, yang mungkin sebenarnya sudah terpikirkan oleh orang lain atau para pejabat-pejabat di lembaga Lingkungan Hidup. Secara teknis pelaksanaanya, saya berharap mungkin bisa diolah lagi oleh lembaga-lembaga yang terkait. Misalkan kerjasama antara pihak KAI dengan Bina Marga, atau yang lainnya. Terimakasih.

Salam,
Go Green.

Tidak ada komentar: